Kenapa Developer Jepang Bilang Mustahil Bikin Game Seperti Neverness to Everness di PS5: Analisis Industri

Industri game Jepang lagi menghadapi dilema besar. Baru-baru ini, beberapa developer game asal Jepang secara terbuka mengatakan bahwa mereka merasa mustahil untuk membuat game sekelas Neverness to Everness (NTE) di PlayStation 5. Pernyataan ini sontak bikin heboh karena NTE sendiri bukan game AAA dari studio Jepang, melainkan dari developer China yang justru berhasil bikin game anime-style gacha yang kualitasnya bikin banyak orang kagum.

Apa Itu Neverness to Everness?

Neverness to Everness atau yang sering disingkat NTE adalah game gacha anime yang dikembangkan oleh Infold Games (bagian dari Papergames). Game ini menampilkan grafis 3D yang sangat detail, dunia open-world yang luas, dan sistem combat yang terinspirasi dari game-game AAA seperti Genshin Impact dan Honkai: Star Rail.

Yang bikin NTE spesial adalah kualitas visualnya. Character design-nya yang anime-inspired tapi dengan rendering 3D yang sangat polished. Lingkungan game-nya juga didesain dengan detail yang tinggi, mulai dari arsitektur kota sampai efek cuaca yang realistis. Semua ini membuat NTE terasa seperti game console AAA yang bisa dimainkan di mobile.

NTE juga punya elemen gacha yang familiar bagi pemain game mobile Asia, tapi dengan sentakan cerita dan worldbuilding yang lebih matang. Developer Infold Games benar-benar menunjukkan bahwa studio China sekarang bisa bersaing di level global.

Kenapa Developer Jepang Merasa Mustahil?

Ada beberapa alasan kenapa developer game Jepang merasa kesulitan untuk meniru kesuksesan NTE di platform PS5. Pertama, soal biaya produksi. NTE membutuhkan investasi yang sangat besar untuk development, dan studio-studio Jepang yang lebih kecil sulit untuk bersaing dengan budget yang dimiliki developer China.

Kedua, soal manajemen dan struktur kerja. Industri game di China, khususnya di studio-studio besar seperti miHoYo (Genshin Impact, Honkai: Star Rail), Papergames, dan Tencent, punya struktur yang memungkinkan mereka memproduksi konten dengan kecepatan dan kualitas yang luar biasa. Studio Jepang tradisional masih banyak yang pakai model development yang lebih konvensional.

Ketiga, soal teknologi dan engine. NTE dikembangkan menggunakan engine yang dimodifikasi secara khusus untuk menghasilkan grafis anime-style yang konsisten. Studio-studio Jepang banyak yang masih mengandalkan engine standar atau teknologi yang sudah lebih tua, sehingga upgrading ke level NTE itu butuh transformasi besar.

Perbandingan dengan Game AAA Jepang

Kalau kita bandingkan dengan game AAA dari Jepang seperti Final Fantasy VII Rebirth dari Square Enix, Dragon’s Dogma 2 dari Capcom, atau Stellar Blade yang dikembangkan oleh Shift Up (Korea), sebenarnya Jepang masih punya kemampuan teknis yang tinggi. Tapi masalahnya ada di model bisnis.

Game AAA Jepang biasanya butuh waktu development 4-5 tahun dengan budget ratusan juta dollar. Sementara NTE dan game gacha sejenis bisa terus di-update dengan konten baru setiap beberapa minggu. Model live service ini butuh tim dan infrastruktur yang berbeda dari development game tradisional.

Studio seperti FromSoftware (Elden Ring), Nintendo (The Legend of Zelda: Tears of the Kingdom), dan Atlus (Metaphor: ReFantazio) tetap menghasilkan game berkualitas tinggi. Tapi model bisnis mereka berbeda dari NTE yang mengandalkan gacha dan monetisasi ongoing.

Apa Artinya untuk Masa Depan Industri Game Jepang?

Pernyataan dari developer Jepang ini bukan berarti mereka menyerah. Ini lebih merupakan pengakuan bahwa lanskap industri game sudah berubah. Developer China dan Korea sekarang punya resources dan kemampuan teknis untuk menantang dominasi Jepang di segmen anime-style game.

Tapi Jepang masih punya kekuatan di area lain. Game seperti Monster Hunter Wilds dari Capcom, Metroid Prime 4 dari Nintendo, dan berbagai JRPG dari Square Enix dan Atlus tetap punya kualitas storytelling dan gameplay yang nggak bisa ditiru dengan mudah.

Yang perlu dilakukan developer Jepang adalah adaptasi. Mereka harus mulai mempertimbangkan model live service, meningkatkan efisiensi development, dan mungkin berkolaborasi dengan studio internasional. Kalau nggak, gap antara game AAA Jepang dan game gacha dari China akan semakin lebar.

Kesimpulan

Pernyataan developer Jepang tentang ketidakmungkinan membuat game seperti NTE di PS5 adalah wake-up call. Industri game Jepang masih kuat di segmen AAA dan JRPG, tapi di segmen anime gacha dan live service, China sudah jauh di depan. Pertanyaannya bukan lagi bisa atau nggak, tapi kapan developer Jepang mulai berubah.

Baca Juga:

More From Author

Chainsaw Man The Movie Reze Arc Resmi Streaming di Crunchyroll: Kenapa Film Ini Bikin Semua Orang Ngomongin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *