NTE Neverness to Everness — Gacha Game Paling Kontroversial Tahun Ini
Neverness to Everness (atau yang biasa disingkat NTE) resmi dirilis untuk PS5, dan langsung jadi salah satu game yang paling banyak dibicarakan di awal 2026. Dibuat oleh Hotta Studio — developer yang sama di balik Tower of Fantasy — dan dipublikasikan oleh Perfect World, NTE hadir sebagai open-world gacha RPG dengan tema urban supernatural yang memukau secara visual.
Tapi nggak semua yang dibicarakan tentang NTE itu positif. Ada kontroversi besar yang nyaris bikin game ini diboikot sebelum bahkan sempat dinikmati. Yuk kita bahas dari awal sampai akhir.
Kontroversi AI yang Bikin Developer Panik
Beberapa minggu setelah rilis, komunitas menemukan bahwa beberapa asset background dan lingkungan di NTE kemungkinan besar dibuat menggunakan AI generatif. Reaksi fans langsung keras — banyak yang merasa bahwa penggunaan AI dalam game, apalagi game berbudget besar kayak NTE, adalah langkah mundur untuk industri kreatif.
Hotta Studio langsung merespons dengan pernyataan resmi: “Neverness to Everness is built on human creativity. The characters, stories, and world you experience are the work of artists, writers, and designers.” Mereka juga berjanji akan merework semua asset yang teridentifikasi menggunakan AI. Response ini cukup cepat dan transparan, yang bikin sebagian fans merasa lebih baik tentang situasi ini.
Tapi kontroversi ini membuka diskusi yang lebih luas tentang peran AI dalam pengembangan game. Apakah AI tools acceptable untuk asset sekunder? Ataukah semua asset harus 100% buatan manusia? Ini pertanyaan yang nggak punya jawaban simpel, dan NTE jadi case study yang menarik.
Review PS5 — Small City Gacha With Style To Spare
PlayStation Universe memberikan review yang cukup positif untuk NTE di PS5. Mereka memuji visual quality yang memang impressive — kota urban di NTE terasa alive dan detail. Kamu bisa naik mobil dan motor buat traversal, yang bikin dunia terasa lebih besar dari yang sebenarnya.
Sebagai gacha game, NTE ngasih kamu karakter S-Tier di awal yang bikin early game terasa smooth. Sistem combat-nya solid dan punya depth yang cukup buat players yang mau explore mechanics lebih dalam. Yang agak jadi concern adalah scope world-nya yang relatively small dibanding open-world game lain — makanya reviewer nyebut ini “small city gacha.”
Tapi style-nya undeniable. Karakter design-nya catchy, soundtrack-nya atmospheric, dan overall aesthetic NTE bikin kamu betah lama-lama di dalam game. Kalau kamu suka gacha game kayak Genshin Impact atau Honkai: Star Rail, NTE punya enough DNA yang familiar tapi tetap punya identity sendiri.
Developer Jepang Malah Kagum — dan Sedikit Iri
Yang bikin cerita NTE makin menarik adalah reaksi dari developer game Jepang. Beberapa developer Jepang openly mengatakan bahwa mereka merasa impossible untuk bikin game kayak NTE di PS5 — bukan karena technical limitation, tapi karena scale dan resource yang dibutuhkan.
Ironisnya, NTE dibuat oleh Hotta Studio yang merupakan developer China, bukan Jepang. Tapi game-nya feels sangat Japanese — dari anime character design-nya, reference ke real-life locations kayak Akihabara, sampai vibe urban supernatural-nya. Ini jadi bahan diskusi menarik tentang siapa yang “paling Jepang” dalam bikin game berestetika Jepang.
Apakah NTE Worth It di 2026?
Kalau kamu suka gacha RPG dan belum bosan dengan formula open-world exploration, NTE definitely worth a try di PS5. Kontroversi AI udah di-address sama developer, dan komitmen mereka buat rework flagged assets menunjukkan bahwa mereka dengerin feedback komunitas.
Baca Juga:
- Game PS5 Terbesar Juni 2026: Dari AAA Title Sampai Hidden Gems
- Forza Horizon 6: Japan Jadi Setting Racing Game Terbaik Pernah Ada
Yang jelas, NTE sudah prove bahwa ada pasar besar untuk gacha game di console — sesuatu yang selama ini didominasi oleh mobile. Kalau Hotta Studio bisa maintain quality dan listen ke fans, NTE bisa jadi salah satu gacha game paling influential di generasi PS5.
