Industri game Jepang sedang dikejutkan oleh kehadiran NTE (Neverness to Everness), sebuah game gacha open world yang dirilis di PS5 dan langsung menduduki posisi teratas sebagai game paling banyak di-download selama seminggu berturut-turut. Yang bikin semua orang kaget? Game yang super Jepang ini — dengan desain karakter anime, setting Akihabara, dan nuansa budaya pop Jepang yang kental — justru dibuat oleh studio asal China.
Siapa di Balik NTE?
NTE dikembangkan oleh Hotta Studio, sebuah developer yang berada di bawah naungan Perfect World. Hotta Studio dikenal sebagai pembuat Tower of Fantasy, game open world yang juga sempat bersaing dengan Genshin Impact dari miHoYo. Dengan NTE, mereka kembali membuktikan bahwa studio China bisa membuat game bergaya anime yang tidak hanya kompetitif, tapi juga mendominasi pasar global — termasuk di Jepang sendiri.
Fakta bahwa NTE berhasil menjadi game terpopuler di PS5 Jepang selama seminggu penuh tentu bukan hal sepele. Jepang adalah rumah bagi Nintendo, Sony, Square Enix, dan Capcom. Mereka adalah gudangnya game berkualitas. Tapi sekarang, game buatan China-lah yang sedang merajai chart di negara mereka sendiri.
Mengapa Developer Jepang Tidak Bisa Membuat Game Seperti NTE?
Isu ini memicu debat panas di kalangan developer Jepang. Konsultan game Alwei dari Inside Us Games menyebutkan di platform X (Twitter) bahwa skala dan skalabilitas dunia open world NTE sungguh “menakutkan”. Menurut analisanya, membuat game serupa di Jepang saat ini hampir mustahil karena beberapa faktor kunci.
Pertama, skala sumber daya. Game seperti NTE membutuhkan investasi besar dalam hal tenaga kerja, waktu, dan teknologi. Hotta Studio bisa mengerahkan ratusan developer sekaligus, sementara studio-studio Jepang umumnya beroperasi dengan tim yang jauh lebih kecil.
Kedua, regulasi ketenagakerjaan. Jepang baru saja memberlakukan aturan baru terkait jam lembur dan perlindungan pekerja. Aturan ini bagus untuk kesejahteraan developer, tapi juga berarti proyek raksasa seperti NTE akan butuh waktu jauh lebih lama untuk diselesaikan di Jepang.
Perbedaan Budaya Game: China vs Jepang
Produser game Ukyo menulis sebuah analisis mendalam di blognya yang kemudian diliput oleh Automaton Media. Ia menyoroti beberapa perbedaan fundamental antara industri game China dan Jepang.
Studio China seperti Hotta Studio dan miHoYo rela menginvestasikan uang dalam jumlah besar untuk menghidupkan karakter mereka — mulai dari animasi berkualitas tinggi, film pendek, hingga lagu-lagu original. Semua ini dirancang untuk memperkuat aspek gacha game, membuat pemain semakin ingin menghabiskan uang untuk mendapatkan karakter favorit.
Di sisi lain, Ukyo juga menyinggung soal larangan konsol di China yang berlangsung dari tahun 2000 hingga 2015. Larangan ini secara tidak langsung membentuk pasar yang lebih tertarik pada game live service seperti MMO — game yang dirancang untuk terus diperbarui dan tidak pernah benar-benar “selesai”. Ini berbeda dengan budaya game Jepang yang sudah lama dibangun di atas model “beli sekali, selesai” seperti Final Fantasy dan Dragon Quest.
Pandangan Shuhei Yoshida
Sentimen ini juga pernah diungkapkan oleh Shuhei Yoshida, mantan bos PlayStation Studios. Pada akhir 2025, Yoshida menyatakan bahwa game-game China semakin kuat karena mereka dibuat dalam lingkungan yang memungkinkan pengembangan cepat dan skala besar. Menurut Yoshida, studio-studio Jepang kesulitan untuk mengimbangi kecepatan dan volume produksi dari developer China.
Apa Artinya untuk Masa Depan Industri Game?
Kasus NTE bukan sekadar soal satu game yang sukses. Ini adalah tanda pergeseran besar dalam industri game global. Selama bertahun-tahun, Jepang dianggap sebagai kiblat game bergaya anime. Tapi sekarang, China — dengan sumber daya melimpah dan tim raksasa — mulai mengambil alih posisi itu.
Apakah ini berarti era dominasi game Jepang sudah berakhir? Belum tentu. Jepang masih memiliki keunggulan dalam hal waralaba legendaris seperti Final Fantasy, Dragon Quest, Monster Hunter, dan Pokemon. Tapi untuk game gacha open world baru, persaingan dari China sudah sangat nyata dan semakin ketat.
Kesimpulan
NTE dari Hotta Studio bukan hanya game yang sukses secara komersial — ini adalah wake-up call bagi industri game Jepang. Dengan open world yang luas, karakter anime yang memukau, dan model gacha yang adiktif, NTE menunjukkan apa yang bisa dicapai ketika sumber daya besar bertemu dengan visi yang tepat. Pertanyaannya sekarang: apakah developer Jepang bisa bangkit dan menantang dominasi China, atau akan semakin tertinggal? Time will tell.
