Jun 2026 beneran jadi bulan yang bikin hati fans J-Pop Jepang campur aduk. Di tanggal 7 Juni 2026, Arashi — salah satu boyband legendaris Jepang yang udah eksis sejak 1999 — resmi tampil untuk terakhir kalinya di Tokyo Dome. Konser bertajuk “We Are Arashi” ini bukan cuma sekadar pentas biasa, tapi penutup dari perjalanan panjang lebih dari 26 tahun yang udah ngukir sejarah industri hiburan Jepang.
Lima member Arashi — Satoshi Ohno, Sho Sakurai, Masaki Aiba, Kazunari Ninomiya, dan Jun Matsumoto — berdiri di atas panggung Tokyo Dome yang familiar bagi mereka. Sejak debut di bawah naungan Johnny & Associates (sekarang berganti nama menjadi SMILE-UP.), Arashi udah jadi salah satu grup musik paling sukses di Jepang dengan penjualan lebih dari 40 juta rekaman.
Kenapa Arashi Bubar Lagi Setelah Pernah Hiatus?
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Arashi berhenti. Pada tahun 2021, kelima member sepakat untuk hiatus dari aktivitas grup demi fokus ke proyek solo masing-masing. Sho Sakurai jadi news anchor di TV Asahi, Kazunari Ninomiya aktif di film dan drama, Masaki Aiba jadi pembawa acara variety show, Jun Matsumoto terjun ke produksi konten, dan Satoshi Ohno menjalani kehidupan seninya.
Tapi “We Are Arashi” 2026 ini beda. Ini bukan hiatus — ini benar-benar akhir dari era Arashi sebagai grup. Keputusan ini diambil setelah diskusi panjang antar member dan manajemen. Bagi jutaan fans yang tumbuh bareng lagu-lagu mereka, ini terasa kayak nutup buku diary masa kecil.
Setlist yang Bikin Nangis: Dari “Love So Sweet” Sampai “Whenever You Shine”
Konser final ini nggak cuma nostalgia kosong. Arashi menyusun setlist yang merangkum seluruh perjalanan karier mereka. Lagu pembuka “Love So Sweet” — yang jadi soundtrack drama “Hana Yori Dango Returns” — langsung bikin seluruh stadion nyanyi bareng. Ada juga “Truth”, “Monster”, dan “Happiness” yang bikin atmosfer Tokyo Dome berubah jadi pesta raksasa.
Yang paling emosional tentu saat mereka membawakan “Whenever You Shine”, lagu yang selalu mereka pakai sebagai penutup konser selama bertahun-tahun. Bedanya kali ini, setelah lagu terakhir selesai, nggak ada encore. Lima member itu cuma berdiri, membungkuk, dan melambaikan tangan.
Dampak Arashi bagi Industri J-Pop
Pengaruh Arashi terhadap industri musik Jepang nggak bisa diukur cuma dari angka penjualan. Mereka ngaruhin generasi idol Jepang yang datang setelahnya, mulai dari Kanjani Eight sampai King & Prince. Bahkan grup generasi baru seperti What’s Up? dan Travis Japan (yang sekarang aktif di bawah TOBE) mengakui bahwa Arashi adalah inspirasi utama mereka.
Konser terakhir di Tokyo Dome ini juga mencatat rekor baru: tiket habis terjual dalam hitungan menit, dan streaming global konser ini ditonton oleh lebih dari 2 juta penonton di seluruh dunia melalui platform Johnny’s web. Ini membuktikan bahwa kekuatan Arashi nggak cuma di Jepang, tapi juga internasional.
Warisan Arashi yang Nggak Akan Terlupakan
Apa yang bikin Arashi spesial bukan cuma musiknya. Variety show mereka seperti “VS Arashi” dan “Arashi ni Shiyagare” di Nippon TV udah jadi bagian dari budaya pop Jepang selama dua dekade. Mereka juga dikenal dengan kegiatan amal dan dukungan untuk pemulihan bencana, termasuk setelah gempa besar Tohoku 2011.
Meski Arashi udah resmi membubarkan diri, kelima membernya bakal tetap aktif di industri hiburan secara individual. Dan bagi fans yang udah menemani mereka dari hari pertama sampai hari terakhir — “We Are Arashi” bukan cuma judul konser. Itu janji yang nggak akan pernah pudar.
Kalau kamu juga tumbuh bareng Arashi, konser final ini pasti jadi salah satu momen paling bersejarah yang pernah kamu saksikan. Arigatou, Arashi. Sampai jumpa di perjalanan masing-masing.
