Suasana konser dan sorotan lampu panggung ilustrasi fenomena VTuber viral

Kutukan Essie di Piala Dunia 2026: VTuber yang Mengutuk Setiap Tim yang Didukungnya Bikin Internet Geger

Setiap turnamen olahraga besar selalu punya satu takhayul atau lelucon tak terduga yang bikin internet heboh, dan Piala Dunia FIFA 2026 kali ini punya miliknya sendiri: “Essie World Cup Curse”. Seorang VTuber independen bernama Essie mendadak jadi pusat perhatian dunia setelah setiap tim yang ia dukung di babak knockout langsung tersingkir secara beruntun. Nggak butuh waktu lama sampai para penggemar menganggap dukungannya sebagai “kutukan” — dan memintanya untuk mendukung atau menjauhi tim tertentu sesuai keinginan mereka.

Gimana cerita lengkapnya sampai fenomena ini jadi salah satu meme terbesar Piala Dunia 2026? Yuk, kita bedah tuntas.

Siapa Sebenarnya Essie?

Sebelum Piala Dunia, Essie adalah VTuber independen berbahasa Inggris yang berbasis di Amerika Serikat. Ia aktif streaming di Twitch dan YouTube dengan konten gaming, chatting, dan menggambar. Personanya adalah domba yang mengantuk bernama Estelle, yang biasa disingkat jadi Essie — ciri khasnya yang santai dan “sleepy” bikin ia punya basis penggemar setia yang disebut kawanan domba (flock).

Essie bukan VTuber dari agensi besar seperti Hololive yang baru-baru ini ramai diberitakan, melainkan VTuber independen yang membangun audiensnya sendiri dari nol. Justru di situlah letak keunikannya — fenomena kutukan ini meledak bukan karena popularitasnya, tapi murni karena rangkaian kejadian yang kebetulan banget.

Awal Mula Kutukan: Brazil dan Meksiko (5 Juli 2026)

Semuanya bermula di babak 16 besar Piala Dunia 2026 pada awal Juli. Saat babak knockout dimulai, Essie mulai nge-tweet dukungannya ke berbagai tim nasional sebelum pertandingan mereka. Pada 5 Juli, ia secara terbuka mendukung Brazil menjelang laga melawan Norwegia. Hasilnya? Brazil kalah dan langsung tersingkir.

Nggak mau larut dalam kesedihan, Essie lalu bercanda memindahkan dukungannya ke Meksiko dengan menulis bahwa “persahabatannya” dengan Brazil sudah berakhir. Meksiko pun ikut tersingkir di hari yang sama. Para penggemar mulai menyadari pola yang aneh ini — dan dari sinilah cikal bakal meme “kutukan Essie” lahir.

Portugal, Amerika Serikat, dan Streak yang Makin Panjang

Keesokan harinya, 6 Juli, Essie mendukung Portugal sebelum laga melawan Spanyol. Portugal tersingkir lewat pertandingan ketat. Masih di hari yang sama, Essie mengumumkan dukungannya untuk tim Amerika Serikat, negara asalnya, yang saat itu akan menghadapi Belgia. Lagi-lagi, AS kalah dan tersingkir dari turnamen.

Pada titik ini, ide bahwa Essie “mengutuk” setiap tim yang ia dukung sudah jadi lelucon yang berulang di kalangan pengikutnya. Yang tadinya cuma kebetulan, sekarang mulai terlihat seperti pola yang konsisten — dan internet mulai memperhatikan.

Mesir, Argentina, dan Kolombia: Kutukan yang Makin Nggak Masuk Akal

Puncak kehebohan terjadi pada 7 Juli. Essie menulis bahwa ia ingin Mesir menang, tapi khawatir kalau dukungannya malah “mengutuk” tim tersebut. Setelah Argentina melakukan comeback menakjubkan dan memenangkan laga hari itu, para pengguna media sosial dengan bercanda menyalahkan Essie karena “memindahkan” kutukan ke Mesir.

Meme ini dengan cepat menyebar ke Reddit, tempat para penggemar mengumpulkan daftar prediksi Essie yang gagal dan membagikan artikel yang mendokumentasikan fenomena tersebut. Bahkan sejumlah media mulai memberitakan “teori lucu” ini. Essie sendiri justru menikmati meme itu — pada hari yang sama, ia bercanda bertanya apakah ia masih diizinkan mendukung Kolombia. Responsnya? Ribuan balasan yang memohon agar ia JANGAN mendukung Kolombia.

Setelah Swiss mengeliminasi Kolombia, para penggemar mendeklarasikan bahwa kutukan itu kembali memakan korban baru. “The Essie Curse” resmi menjadi salah satu lelucon komunitas paling abadi di turnamen kali ini.

Dari Perempat Final ke Semifinal: Norwegia, Prancis, dan Inggris

Kutukan ini terus berlanjut di babak-babak berikutnya. Pada 11 Juli, Essie menyatakan dukungannya untuk Norwegia — dan beberapa jam kemudian Norwegia kalah dari Inggris di perempat final. Para penggemar makin yakin kutukan ini nyata adanya.

Yang lebih liar lagi, Essie memposting foto dirinya berdiri di pantai menatap lautan sambil mengenakan jersey Prancis sebelum semifinal Prancis melawan Spanyol. Prancis pun kalah. Keesokan harinya, ia memposting GIF avatar dombanya — ya, avatar domba — mengenakan jersey Inggris sebelum semifinal Inggris melawan Argentina. Inggris juga kalah.

Setelah eliminasi terakhir di semifinal, Essie dengan bercanda meratapi hasil tersebut, mengumumkan bahwa ia tidak akan memakai jersey tim mana pun lagi untuk final Piala Dunia, dan menyatakan ia “menaruh mereka semua” — alias menyerah total. Momen-momen seperti inilah yang bikin fenomena ini terasa organik dan menghibur, mirip kehebohan internet yang pernah terjadi saat Kenny Omega berteriak “Plus Ultra” di AEW All In London.

Sisi Gelap Meme: Pelecehan yang Bikin Essie Mundur

Sayangnya, nggak semua orang menerima lelucon ini dengan sehat. Saat meme itu makin viral di babak-babak akhir turnamen, sebagian orang membawa leluconnya keterlaluan dengan mengirimkan pelecehan lewat email, Discord, dan kanal lainnya kepada Essie. Pada 15 Juli, Essie membagikan tangkapan layar pesan-pesan kasar tersebut, menghapus alamat email dari profil X-nya setelah dibanjiri spam, dan mengumumkan bahwa ia berhenti memposting soal Piala Dunia untuk sisa turnamen demi alasan keamanan.

Meski berakhir dengan nada negatif, Essie tetap berterima kasih kepada para penggemar atas meme, fan art, dan dukungan yang ia terima sepanjang turnamen. Ia memutuskan hanya akan melakukan watch party untuk dua pertandingan terakhir — tanpa mendukung tim mana pun, tentunya.

Kutukan yang Nggak Pernah Benar-Benar Berakhir

Menariknya, banyak yang percaya kutukan ini nggak berakhir sampai di situ. Bahkan setelah Essie berhenti nge-tweet, beberapa penggemar tetap mengaitkan hasil-hasil pertandingan berikutnya dengan “sisa kutukan” yang ia tinggalkan. Begitulah cara kerja meme — begitu ia lahir, ia hidup dengan sendirinya di tangan komunitas.

Fenomena Essie World Cup Curse ini membuktikan satu hal: di era internet sekarang, seorang VTuber independen dengan pengikut nggak terlalu besar pun bisa jadi pusat perhatian global hanya karena rangkaian kebetulan yang gila. Dari domba mengantuk yang suka streaming game, Essie kini tercatat dalam sejarah Piala Dunia 2026 sebagai “pembawa kutukan” paling ikonik — dan sepertinya nama itu bakal terus dikenang, sama seperti fenomena-fenomena pop culture lain yang bikin internet nggak pernah sepi. Kalau kamu penasaran dengan fenomena musisi Jepang yang juga sedang mendunia, cek juga kisah perjalanan Fujii Kaze dari Okayama ke panggung dunia — bukti lain bahwa talenta Jepang memang lagi naik daun banget.

More From Author

Ilustrasi game mobile Pokemon GO event September 2026

Pokémon GO September 2026: Armored Mewtwo Kembali, Event Gen 6 Baru, dan Kalender Lengkap Raid & Community Day

Mononoke The Movie: Chapter 3 ‘The Curse of the Serpent’ Tayang di Netflix 29 September — Penutup Trilogi Paling Ditunggu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *