Mulai 1 September 2026, harga Nintendo Switch 2 resmi naik secara permanen. Pengumuman kenaikan harga ini sempat diumumkan sejak awal tahun, dan kini resmi berlaku di Amerika Serikat, Inggris, hingga daratan Eropa. Di Jepang pun, kenaikan harga ikut diberlakukan. Konsol hybrid besutan Nintendo ini sebelumnya dibanderol di kisaran harga awal peluncuran, dan kini naik sekitar $50 (US$399 menjadi US$499) di pasar Amerika.
Kenaikan Harga dan Peringatan di Toko
Menjelang tanggal pemberlakuan, Nintendo bahkan mulai memasang peringatan di dalam toko yang mengingatkan para konsumen akan kenaikan harga yang akan datang. Di beberapa gerai, stok Switch 2 pun sempat menipis karena banyak orang memanfaatkan harga lama sebelum naik. Beberapa retailer bahkan meluncurkan penawaran terakhir, seperti Woot milik Amazon yang menawarkan Switch 2 seharga $399.99 sebelum kenaikan diterapkan.
Fenomena “buru-buru beli sebelum harga naik” ini bukan hal baru dalam industri konsol. Namun, keputusan Nintendo untuk menaikkan harga secara permanen tetap menjadi sorotan besar. Banyak yang menyayangkan, mengingat harga konsol biasanya justru cenderung turun seiring berjalannya waktu, bukan naik.
Penjualan yang Justru Melandai
Di balik hiruk-pikuk kenaikan harga, ada catatan menarik soal performa penjualan Switch 2. Di kuartal fiskal pertama (April-Juni 2026), Nintendo tetap mencatatkan laba yang melonjak lebih dari 50 persen, didorong oleh penjualan software yang kuat dan pengembalian tarif (refund) dari kebijakan tarif AS. Namun, penjualan konsol Switch 2 sendiri justru mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.
Beberapa analis menyebut penurunan ini wajar terjadi karena momentum peluncuran yang sudah lewat. Setelah lebih dari satu tahun beredar, puncak antusiasme peluncuran memang sudah mulai mereda. Meski begitu, Switch 2 tetap menjadi konsol terlaris di Jepang dan wilayah Amerika. Di Jepang, Switch 2 tercatat menjual sekitar 137 ribu unit pada Juni 2026 menurut data estimasi, dan total penjualan seumur hidupnya sudah menembus angka jutaan unit, bahkan melampaui 23 juta unit secara global.
Faktor Tarif dan Tekanan Ekonomi
Kenaikan harga ini sebagian besar dipicu oleh kebijakan tarif impor yang diterapkan di Amerika Serikat. Kenaikan tarif membuat biaya produksi dan distribusi konsol ikut naik, dan Nintendo pun mengambil keputusan untuk menyesuaikan harga jual. Ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana kebijakan perdagangan global berdampak langsung ke kantong para gamer.
Bukan hanya Nintendo yang merasakan tekanan ini. Sony, misalnya, juga sempat memperingatkan bahwa tarif akan memengaruhi profitabilitas bisnisnya. Beruntung, Sony kemudian menaikkan proyeksi laba setelah dampak tarif diperkirakan lebih kecil dari perkiraan awal. Kondisi ini menunjukkan betapa tarif menjadi variabel penting yang ikut menentukan arah industri game global saat ini.
Switch 2 dan Keunggulannya
Meski menghadapi kenaikan harga, Switch 2 tetap menarik bagi banyak gamer karena deretan peningkatannya dibanding generasi sebelumnya. Dukungan software yang kuat, performa yang jauh lebih baik, serta ekosistem game eksklusif yang solid membuat konsol ini tetap diminati. Ditambah lagi, berbagai game besar seperti Elden Ring dan sejumlah judul pihak ketiga ikut hadir memperkuat posisi Switch 2 di pasaran.
Switch 2 sendiri hadir sebagai penerus konsol paling sukses dalam sejarah Nintendo. Tanah leluhur Switch yang awalnya sangat populer telah meletakkan fondasi yang kuat, dan Switch 2 tinggal melanjutkan kesuksesan tersebut dengan berbagai peningkatan teknis. Layar yang lebih besar, performa grafis yang lebih baik, serta dukungan fitur-fitur modern membuatnya semakin nyaman digunakan, baik saat dimainkan di rumah maupun saat dibawa bepergian.
Permintaan yang konsisten di berbagai bulan menjadi bukti bahwa Switch 2 memiliki basis penggemar yang loyal. Bahkan, di beberapa bulan, konsol ini mencatatkan angka penjualan tertinggi di antara konsol lain di wilayah Amerika dan Jepang.
Apakah Kenaikan Harga Akan Menghambat Penjualan?
Pertanyaan besarnya adalah apakah kenaikan harga ini akan membuat calon pembeli berpikir dua kali. Beberapa pengamat menilai Switch 2 sudah cukup mapan dengan basis penggemar yang loyal, sehingga dampak kenaikan harga mungkin tidak terlalu besar. Namun, di tengah tekanan ekonomi yang melanda banyak negara, harga menjadi faktor sensitif yang bisa memengaruhi keputusan pembelian.
Data awal setelah kenaikan harga di Jepang memang menunjukkan adanya penurunan penjualan. Namun, penting untuk dipahami bahwa penurunan semacam ini sering kali bersifat jangka pendek, dan bisa kembali normal seiring dirilisnya game-game baru yang menarik. Musim liburan akhir tahun biasanya menjadi momen di mana penjualan konsol kembali melonjak.
Dampak bagi Pasar Indonesia
Bagi para gamer di Indonesia, kenaikan harga ini juga punya implikasi. Meski harga resmi yang naik berlaku di wilayah tertentu, pergerakan harga di pasar global kerap memengaruhi harga di pasar impor dan distributor lokal. Menjadi lebih bijak buat calon pembeli untuk memantau harga dari berbagai sumber dan memanfaatkan momen promo bila ada sebelum kenaikan ikut merembet ke pasar domestik.
Kesimpulan
Kenaikan harga Switch 2 yang mulai berlaku 1 September menandai babak baru bagi konsol hybrid Nintendo. Meski penjualan sempat melandai dan harga naik, ekosistem game dan software yang kuat tetap menjadi modal utama. Bagi yang belum sempat membeli dengan harga lama, bersiaplah merogoh kocek lebih dalam. Namun bagi yang sudah memiliki konsol ini, momentum kenaikan harga justru tidak terlalu berpengaruh, karena yang terpenting adalah deretan game berkualitas yang terus berdatangan.
Bagi penggemar Nintendo yang juga menyukai game balap, cek juga update menarik soal Elden Ring Tarnished Edition di Switch 2 dan daftar lengkap game yang rilis September 2026.
