Kalau kamu pernah nonton Lazarus pas pertama kali tayang di tahun 2025, kemungkinan besar kamu termasuk orang yang langsung ngejudge. Anime original besutan sutradara legendaris Shinichirō Watanabe — otak di balik masterpiece seperti Cowboy Bebop dan Samurai Champloo — ini sempat jadi bahan bully di mana-mana. Ratingnya anjlok, reviewannya pedas, dan banyak fans yang bilang ini adalah langkah mundur terbesar dari seorang visioner anime. Tapi fast forward ke 2026, dan semua orang mulai bilang: “Eh, ternyata kita yang salah.”
Apa Itu Lazarus dan Kenapa Awal Tayangnya Kontroversial?
Lazarus adalah anime original yang diproduksi oleh studio MAPPA — studio yang sama di balik hits raksasa seperti Jujutsu Kaisen, Chainsaw Man, dan Attack on Titan: The Final Season. Anime ini menceritakan dunia dystopian di mana umat manusia menghadapi ancaman misterius, dan sekelompok karakter utama harus bertarung untuk bertahan hidup. Visualnya memang gila — animasi MAPPA tidak pernah mengecewakan — tapi cerita dan pacing-nya di awal bikin banyak penonton bingung.
Masalah utamanya? Lazarus nggak mengikuti formula anime konvensional. Nggak ada power system yang jelas seperti di Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba, nggak ada turnamen arc seperti di My Hero Academia, dan karakter-karakternya nggak langsung bisa kamu relate. Banyak viewer yang expect sesuatu se-inovatif Cowboy Bebop langsung kecewa karena Lazarus pilih jalan yang jauh lebih gelap, lebih lambat, dan lebih eksperimental.
Titik Balik: Kenapa 2026 Mengubah Semua Opini
Pas Crunchyroll Anime Awards 2026 digelar, semua orang expect Demon Slayer: Infinity Castle bakal dominasi — dan memang iya, film itu menang Film of the Year. My Hero Academia juga bikin gebrakan dengan menang Anime of the Year setelah mengumpulkan 73 juta suara. Tapi yang bikin semua orang terkejut? Lazarus justru masuk nominasi di beberapa kategori penting, dan beberapa kritikus mulai ngomongin ulang anime ini dengan cara yang sangat berbeda.
Alasannya sederhana: Lazarus butuh waktu untuk di-resolve. Seperti Neon Genesis Evangelion yang juga sempat kontroversial di era 90-an, Lazarus adalah anime yang baru bisa kamu appreciate setelah semua piece puzzle-nya lengkap. Pas kamu nonton ulang dari episode 1 setelah tahu ending-nya, kamu baru sadar betapa banyaknya foreshadowing dan simbolisme yang tersembunyi di setiap scene. Ini bukan anime yang bisa kamu judge dari 3 episode pertama — dan itu justru yang bikin Lazarus spesial.
Perbandingan dengan Karya Shinichirō Watanabe Lainnya
Kalau kita lihat track record Shinichirō Watanabe, sebenarnya pola ini nggak baru. Cowboy Bebop sendiri sempat jadi anime yang ratingnya biasa-biasa aja di Jepang pas pertama kali tayang di tahun 1998. Baru setelah broadcast di Adult Swim Amerika, Cowboy Bebop jadi kultus dan akhirnya diakui sebagai salah satu anime terbaik sepanjang masa. Terror in Resonance juga nggak langsung jadi hits, tapi sekarang dianggap sebagai salah satu anime thriller terbaik dekade 2010-an.
Yang membedakan Lazarus dari Terrace Boy atau Space Dandy — dua karya Watanabe lain yang juga sempat bikin bingung — adalah depth storytelling-nya. Lazarus bukan anime yang mau ngasih kamu easy answers. Ini anime yang maksa kamu mikir, dan di era di mana kebanyakan anime modern seperti Solo Leveling dan Frieren: Beyond Journey’s End sudah sangat polished dan predictable, Lazarus justru tampil sebagai anomali yang refreshing.
Kenapa Lazarus Penting untuk Masa Depan Anime
Industri anime di tahun 2026 sedang dalam posisi yang menarik. Di satu sisi, kita punya adaptasi manga yang sangat sukses seperti Gachiakuta yang menang Best New Anime, Wistoria: Wand and Sword Season 2 yang ranking #1, dan Akane-Banashi yang jadi hidden gem Spring 2026. Tapi di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa anime original — anime yang nggak berdasarkan manga atau light novel — semakin langka.
Lazarus membuktikan bahwa anime original masih punya tempat, bahkan kalau jalan ceritanya nggak langsung diterima. Ini penting banget karena tanpa karya-karya eksperimental seperti Lazarus, Odd Taxi, atau Vivy: Fluorite Eye’s Song, industri anime bakal jadi monoton. Kita butuh lebih banyak storyteller yang berani ambil risiko, dan Shinichirō Watanabe di Lazarus sudah membuktikan bahwa risiko itu worth it — kamu cuma perlu sabar nunggu orang-orang catch up.
Kesimpulan
Lazarus bukan untuk semua orang, dan itu nggak apa-apa. Tapi kalau kamu salah satu orang yang ngejudge anime ini di awal dan belum kasih kesempatan kedua, maybe it’s time to give it another shot. Di tengah lautan anime adaptation yang sudah predictable, Lazarus dari MAPPA dan Shinichirō Watanabe menawarkan sesuatu yang langka: sebuah cerita yang nggak mau ngasih kamu easy answer, dan justru karena itu, jauh lebih memorable.
