Dunia Jujutsu Kaisen dikenal dengan pertarungan sengit antara penyihir Jujutsu dan Roh Terkutuk. Namun, setelah insiden Shibuya yang menghancurkan, serial ini memperkenalkan sebuah konsep baru yang jauh lebih gelap dan berbahaya: Culling Game. Dirancang sebagai puncak dari rencana jahat Kenjaku, permainan mematikan ini mengubah sebagian besar Jepang menjadi arena pertarungan tanpa ampun, di mana hidup dan mati ditentukan oleh poin dan teknik kutukan.
Apa Itu Culling Game?
Culling Game, atau yang dalam bahasa Jepang dikenal sebagai Genshin Sakusei, adalah sebuah battle royale berskala besar yang diciptakan oleh Kenjaku, penyihir kuno yang kini merasuki tubuh Suguru Geto. Permainan ini melibatkan ribuan peserta, baik penyihir Jujutsu yang masih hidup, penyihir yang baru bangkit dengan teknik kutukan yang diberikan Kenjaku, maupun Roh Terkutuk. Tujuaya adalah untuk mendorong evolusi manusia dan kekuatan kutukan ke batasnya, serta mempersiapkan “pencairan” (melting) antara Manusia dengan Master Tengen.
Culling Game beroperasi di dalam beberapa “koloni” yang tersebar di seluruh Jepang, yang merupakan area-area luas yang disegel oleh penghalang kutukan. Begitu seseorang memasuki koloni, mereka secara otomatis menjadi peserta dan harus bertarung untuk bertahan hidup. Setiap peserta memiliki tujuan yang berbeda: ada yang ingin bertahan hidup, ada yang mencari poin, dan ada pula yang berusaha menghentikan Kenjaku atau menyelamatkan orang yang mereka cintai.
Tujuan Utama Kenjaku
Di balik kekejaman Culling Game, Kenjaku memiliki visi yang jauh lebih besar dan mengerikan. Tujuaya adalah untuk memaksa evolusi umat manusia dengan menggabungkan mereka secara paksa dengan Master Tengen, entitas abadi yang menjaga batas-batas Jepang. Melalui Culling Game, Kenjaku menciptakan jumlah energi kutukan yang masif dan memaksa para penyihir untuk bertarung hingga batas akhir, yang diyakininya akan menghasilkan era baru bagi manusia, di mana batas antara Roh Terkutuk dan manusia akan kabur, menciptakan bentuk kehidupan baru yang lebih kuat dan beradaptasi dengan energi kutukan.
Ia juga ingin melihat batas akhir dari potensi manusia dan energi kutukan ketika dihadapkan pada situasi hidup atau mati yang ekstrem. Ini adalah eksperimen sosial dan genetik terbesar yang pernah ada dalam sejarah Jujutsu.
Aturan Dasar Culling Game
Untuk memastikan permainan berjalan sesuai kehendaknya, Kenjaku menetapkan sejumlah aturan yang harus dipatuhi oleh semua peserta. Aturan-aturan ini diawasi oleh Shikigami yang disebut “Game Master” atau “Wasit,” yang akan memusnahkan siapa pun yang melanggar ketentuan.
- Semua peserta yang telah terbangunkan teknik kutukaya harus berpartisipasi dalam Culling Game.
- Semua peserta yang telah memasuki koloni secara otomatis menjadi pemain Game.
- Seorang pemain yang memasuki koloni dan tidak berpartisipasi dalam Game selama 19 hari akan dihapus dari Game.
- Pemain akan mendapatkan poin dengan membunuh pemain lain. Poin untuk non-penyihir adalah 1, sedangkan untuk penyihir adalah 5.
- Kecuali jika nyawa pemain terancam, wasit tidak akan ikut campur dalam Game.
- Ketika seorang pemain memperoleh 100 poin, mereka memiliki hak untuk menambahkan satu aturan ke Culling Game.
- Wasit harus menyetujui aturan baru yang diusulkan.
- Setiap pemain dapat keluar dari Culling Game jika semua wasit meninggal.
Aturan-aturan ini membuat Culling Game menjadi pertarungan strategi, kekuatan, dan moralitas. Pemain harus memutuskan apakah akan membunuh untuk mendapatkan poin, atau mencari cara lain untuk bertahan hidup dan mencapai tujuan mereka.
Koloni dan Penghalang
Culling Game terjadi di dalam “koloni,” yang merupakan area-area spesifik di Jepang yang dipisahkan dari dunia luar oleh penghalang kutukan yang kuat. Penghalang ini tidak hanya mencegah orang masuk atau keluar sesuka hati, tetapi juga memperkuat energi kutukan di dalamnya, menciptakan lingkungan yang ideal untuk pertarungan brutal. Beberapa koloni yang dikenal antara lain Koloni Tokyo, Koloni Sendai, dan Koloni Sakurajima. Setiap koloni memiliki karakteristik dan tantangaya sendiri, dengan Roh Terkutuk dan pemain baru yang terus muncul.
Penghalang ini juga berfungsi sebagai mekanisme Kenjaku untuk mengisolasi area tersebut, memastikan eksperimeya tidak terganggu oleh dunia luar dan dampak kehancuran tetap terkonsentrasi di dalam area tersebut.
Para Pemain Kunci dan Alasan Keterlibatan Mereka
Beberapa karakter utama dari Jujutsu Kaisen terjebak dalam Culling Game, masing-masing dengan motivasi yang mendalam:
- Yuji Itadori: Terpaksa masuk untuk membantu teman-temaya dan menghentikan Kenjaku. Tujuaya adalah untuk mencegah korban lebih lanjut dan mencari cara untuk menyelamatkan Gojo Satoru.
- Megumi Fushiguro: Masuk ke Culling Game untuk menyelamatkan adik tirinya, Tsumiki Fushiguro, yang secara tidak sengaja menjadi salah satu peserta. Ia bertekad untuk menggunakan aturan 100 poin untuk mengeluarkan Tsumiki dari permainan.
- Yuta Okkotsu: Awalnya ditugaskan untuk membunuh Yuji sebagai hukuman atas insiden Shibuya, Yuta akhirnya bergabung dengan Yuji dan Megumi dalam upaya mereka untuk menghentikan Kenjaku dan menyelamatkan Gojo. Kehadiraya sangat krusial mengingat kekuataya yang luar biasa.
- Hana Kurusu (Angel): Salah satu pemain baru yang diaktifkan oleh Kenjaku. Ia memiliki teknik kutukan yang mampu membatalkan teknik kutukan lain, menjadikaya kunci untuk membebaskan Gojo Satoru dari Prison Realm. Megumi dan kawan-kawan berusaha mencarinya untuk meminta bantuaya.
Motivasi pribadi dan kompleksitas karakter menambah kedalaman pada narasi Culling Game, mengubahnya dari sekadar pertarungan brutal menjadi kisah tentang harapan, pengorbanan, dan tekad.
Kesimpulan
Culling Game adalah inti dari arc terbaru di Jujutsu Kaisen setelah insiden Shibuya, membawa narasi ke tingkat yang lebih intens dan brutal. Ini bukan hanya pertarungan fisik, tetapi juga pertarungan ideologi, moralitas, dan kemanusiaan. Dengan aturan-aturan yang kejam, tujuan Kenjaku yang mengerikan, daasib Gojo Satoru serta Tsumiki Fushiguro di ujung tanduk, Culling Game memaksa para penyihir Jujutsu untuk menghadapi tantangan terbesar mereka. Kelangsungan hidup Jepang, dan mungkin seluruh dunia, bergantung pada kemampuan mereka untuk menavigasi permainan mematikan ini dan menghentikan rencana Kenjaku.
